Ikan Hias Air Tawar Asal Papua Indonesia – 4

1. Melanotaenia praecox

Melanotaenia praecox
Melanotaenia praecox

Nama ilmiah : Melanotaenia praecox (Weber & de Beaufort, 1922)
Nama populer : Dwarf-neon rainbowfish, Rainbow biru

Nama lokal : Pelangi mungil

Ciri umum : Ikan jantan berwarna biru neon dengan sirip dorsal, anal dan ekor berwarna merah, kadang jingga menyala. Bentuk tubuh pipih. Ikan betina berpenampilan sama, hanya saja sirip berwarna kuning. Banyak jenis ikan pelangi berukuran mungil, namun jenis ini mendapat julukan ikan pelangi mungil.
Ukuran maksimum : 6 cm

Penelitian Limnologi-LIPI sejak tahun 1997. Ditemukan secara musiman di pedagang ikan hias.

Distribusi/habitat :

Ditemukan pada sungai yang jernih, dangkal, dan beraliran deras di daerah Dabra dan Iritoi di sisi dataran Mambramo, Papua. Suhu air habitat 27,8°C dengan pH 6,5.
Keterangan : Dikhawatirkan terancam punah karena memiliki habitat terbatas.

Pemeliharaan : Mudah dipelihara; kisaran suhu 24–27°C dengan pH 6,5–7,0. Sangat pendamai, tidak agresif sehingga dapat dipelihara baik secara terpisah maupun dalam akuarium bercampur dengan ikan rainbow jenis lain. Pakannya sama dengan Melanotaenia lainnya, yaitu Chironomus, jentik nyamuk, cacing, bahkan pelet udang.

Keterangan : Ikan ini menampakkan warna terbaiknya pada akuarium yang dilengkapi tumbuhan air. Juga saat musim reproduksi.
Reproduksi : Pemijahan dapat berlangsung secara massal atau individual, rasio 1 jantan dengan 1–2 betina. Telur ditempelkan pada akar tanaman atau rerumputan ataupun substrat buatan. Jumlah telur sekitar 20–30 butir; menetas dalam 8–10 hari pada suhu 26°C, dapat juga lebih cepat.

Pakan larva : Infusoria, kuning telur ayam rebus, pelet halus.

2.  Melanotaenia splendida

Melanotaenia splendida
Melanotaenia splendida

Nama ilmiah : Melanotaenia splendida Sub sp. rubrostriana (Ramsay & Ogilby, 1886)

Nama populer : Red-striped rainbowfish

Nama lokal : –

Ciri umum :

Warna abu-abu kebiruan atau kehijauan yang cenderung memudar pada tubuh bagian bawah. Setiap baris sisik horizontal dibatasi oleh strip tipis berwarna jingga-merah; mem- bran sirip dorsal kedua dan sirip anal berwarna merah anggur. Individu jantan berwarna lebih mencolok, berukuran relatif besar, dan lebih memipih dibandingkan individu betina.
Ukuran maksimum : 16 cm

Status : Asli dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Sangat banyak ditemukan di habitatnya. Spesimen hidup dikoleksi G. Allen antara tahun 1978–1982.

Distribusi/habitat :

Ikan ini terdistribusi luas di Papua dan PNG; juga terdapat di Pulau Aru. Habitatnya berupa dataran rendah dekat pantai. Ditemukan pada anak sungai atau sungai-sungai besar, perairan yang jernih maupun keruh. Sering ditemukan pada sungai, laguna, dan danau yang bervege- tasi padat. Suhu 24–33°C dengan pH 5,6–7,5.

Keterangan : Umumnya ditemukan di antara tumbuhan permukaan air; bersama dengan Melanotaenia affinis dan M. goldiei.
Pemeliharaan : Kondisi alami adalah suhu 24–33oC; pH 5,6–7,5. Toleransi suhu sangat lebar, jadi pemeliharaan mudah dilakukan. Pemeliharaan umumnya pada suhu 27°C dengan pH sekitar 7 dan kesadahan (hardness) 12.
Reproduksi : Belum ada informasi.
Pakan larva : Belum ada informasi.

3. Melanotaenia synergos

Melanotaenia synergos
Melanotaenia synergos

Nama ilmiah : Melanotaenia synergos Allen & Unmack, 2008

Nama populer : Batanta Island rainbowfish, Synergos rainbow fish
Nama lokal : –

Ciri umum :

Ikan jantan berwarna biru turkeis di bagian dorsal dan juga berbelang kuning emas menuju ke pertengahan tubuh secara horizontal. Ba- gian ventral berwarna memutih. Di sepanjang tubuh terdapat garis linea lateralis berwarna biru gelap. Betina menampilkan warna yang hampir sama, namun sirip dorsal dan anal tak berwarna.
Ukuran maksimum : 12 cm

Status : Endemis dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Pertama kali dikoleksi oleh Heiko Bleher tahun 1992 saat melakukan eksplorasi di Pulau Batanta.

Distribusi/habitat : Hanya ditemukan di Pulau Batanta, Papua Barat, yaitu suatu pulau di sebelah barat Papua Barat. Tersebar di sekitar sungai-sungai hutan hujan dengan suhu sekitar 18–28°C. Kondisi alaminya sangat bervariasi.
Keterangan : Pulau Batanta termasuk pulau berukuran kecil dengan panjang sekitar 55 km dengan lebar sekitar 30–35 km.

Pemeliharaan : Belum ada informasi.

Reproduksi : Belum ada informasi.
Pakan larva : Belum ada informasi.

4. Melanotaenia vanheurni

Melanotaenia vanheurni
Melanotaenia vanheurni

Nama ilmiah : Melanotaenia vanheurni (Weber & de Beaufort, 1922)
Nama populer : Van Heurn’s rainbowfish

Nama lokal : –

Ciri umum :

Ikan dewasa berwarna cokelat atau zaitun pada bagian punggung dan kuning pada sisi bagian bawah. Terdapat garis pertengahan tubuh berwarna biru-hitam dengan strip kuning hingga putih pada pinggiran atas dan bawah strip tersebut. Ikan jantan yang siap kawin menampakkan kilau kuning keemasan pada bagian atas kepala.
Ukuran maksimum : 20 cm

Status : Endemis dengan kategori IUCN Red List Status Data Deficient. Dibawa ke Jerman pada tahun 1992. Masih melimpah di habitatnya.

Distribusi/habitat :

Ditemukan di sungai kecil dan anak-anak sungai yang lebih besar di DAS Mambramo, Papua. Tidak ditemukan di sungai besar yang keruh seperti Mambramo, tetapi lebih menyu- kai aliran yang jernih yang mengalir melalui hutan hujan yang umumnya dekat kaki bukit. Dasar sungai berbatu atau berpasir.

Keterangan : Melimpah di aliran yang lambat hingga deras.
Habitatnya sama dengan Chilatherina fasciata.
Pemeliharaan : Habitat aslinya dengan suhu 25–28°C dengan pH 7,1–7,5. Pemeliharaan disesuaikan dengan kondisi alaminya.
Reproduksi : Tidak ada informasi; diduga mirip Melanotaenia lainnya.
Pakan larva : Belum ada informasi.

5. Glonisaida (“strain”)

Glonisaida
Glonisaida

Nama ilmiah : Glonisaida (“strain”) Said, 1998

Nama populer : Rainbow gloni (Crossing rainbow)

Nama lokal : Pelangi silangan

Ciri umum :

Tubuh pipih. Sekujur tubuh berwarna cenderung kehijauan pada bagian anterior dan menguning hingga jingga ke arah posterior. Terdapat 6–9 garis hijau bergantian dengan jingga dari anterior ke posterior. Sirip anal, ekor, dan punggung kedua berwarna kuning- jingga. Bentuk tubuh memipih. 100% ikan hasil pengembangan memiliki penampilan warna yang seragam. Bersifat sangat agresif.
Ukuran maksimum : 15 cm

Status : Hasil hibridisasi pada tahun 1998. Terlahir dari perpaduan antara Glossolepis dan Melanotaenia.

Nama yang disandang masih sementara yang merupakan perpaduan nama kedua induknya dan pelaku pertama hibridisasi (D.S. Said). Perlu penelitian lebih lanjut agar mampu memiliki keturunan sehingga terbentuk ikan pelangi ”strain” baru.

Distribusi/habitat :

Distribusi masih relatif terbatas karena merupakan hasil pengembangan di Pusat Penelitian Limnologi-LIPI, yaitu di beberapa tempat budi daya ikan hias di sekitar Bogor dan di pasaran ikan hias. Kode area merunut ke habitat asal nenek moyangnya, yaitu Papua.

Keterangan : Hibrida yang dihasilkan mulai tahun 1998.

Pemeliharaan :

Hidup pada suhu air alami 24,5–27,5oC dan pH 6,7–8,3. Ketahanan hidup tinggi sampai 85%. Umur yang pernah dicapai sampai 10 tahun. Pakan bervariasi dari pakan hidup, sep- erti Tubificidae, Chironomus, jentik nyamuk, hingga pelet. Memiliki sifat yang sangat agresif. Apabila dipasangkan dengan ikan betina maka ikan betina tersebut akan diserangnya.

Reproduksi : Masih infertil. Perlu penelitian lanjutan untuk menghasilkan ikan yang fertil.
Pakan larva : Kuning telur ayam rebus, artemia.

6. Glopicoo (“strain”)

Glopicoo
Glopicoo

Nama ilmiah : Glopicoo (“strain”) Said, 1998 Nama populer : Neon redrainbow
Nama lokal : –

Ciri umum :

Hasil perpaduan antara Glosolepis incisus dengan Melanotaenia praecox. Bentuk tubuh cenderung memanjang seperti induk G. incisus. Warna tubuh biru kemilau, bila ditelaah dengan saksama terdapat sembilan garis merah sepanjang tubuh. Sirip berwarna jingga-merah. Ukuran, bentuk, dan warna hampir seragam. Keunikan yang muncul apabila hibrida ini mencapai umur 1,5 tahun atau lebih, warna merah mulai menghilang perlahan-lahan sehingga akhirnya berwarna putih polos keperakan. Makin bertambah umur akan muncul garis lateral berwarna hitam di sepanjang tubuhnya.

Ukuran maksimum : 9 cm
Status : Hasil hibridisasi pada tahun 1998. Perpaduan Glossolepis dengan M. praecox (pikok). Nama diambil dari perpaduan kedua induknya dan nama kecil pelaku pertama hibridisasi (Koo). Butuh penelitian lebih lanjut agar mampu memiliki keturunan sehingga terbentuk ikan pelangi ”strain” baru.

Distribusi/habitat :

Distribusi masih relatif terbatas karena merupakan hasil pengembangan di Pusat Penelitian Limnologi-LIPI, yaitu di beberapa tempat budi daya ikan hias di sekitar Bogor dan di pasaran ikan hias. Kode area merunut ke kode area nenek moyangnya.

Keterangan : Hibrida yang dihasilkan mulai tahun 1998. Pemeliharaan : Hidup di akuarium atau bak dengan suhu
24,5–27°C dan pH 6,5–8. Pakan bervariasi dari pakan hidup, seperti Tubificidae, Chirono- mus, dan pelet. Ketahanan hidup tinggi sampai 85%. Umur yang pernah dicapai sampai 7 tahun.

Reproduksi : Masih infertil. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan yang fertil.
Pakan larva : Kuning telur ayam rebus, artemia.

7. Pelangia mbotanensis

Pelangia mbotanensis
Pelangia mbotanensis

Nama ilmiah : Pelangia mbotanensis Allen, 1998

Nama populer : Lake Mbuta rainbowfish

Ukuran maksimum : 6 cm

Ciri umum :

Genus Pelangia ini berkerabat dekat dengan Glossolepis, dari segi penampakan luar dan ciri osteologinya (struktur tulangnya). Warna tubuh kuning kecokelatan hingga putih keperakan pada sisi bagian bawah. Jantan yang berukuran lebih besar memiliki bercak-bercak kuning pada bagian tengah sisi. Perbedaan antara jantan dan betina pada spesies ini tidak begitu menonjol dibandingkan dengan ikan- ikan rainbow pada umumnya.

Status : Endemis dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Spesies tunggal. Dite- mukan bersama Melanotaenia goldiei, namun perbandingannya sangat kecil (M. goldiei : P. mbutanensis = 3 : 1).

Distribusi/habitat :

Danau Mbuta yang terletak sekitar 8 km dari Teluk Etna Papua Barat sebenarnya berupa cekungan-cekungan rawa yang dikelilingi pe- gunungan rendah. Air jernih, tetapi berwarna gelap seperti teh (mencirikan air gambut). Kondisi habitat dengan suhu 25,8°C dan pH 6,4.

Keterangan : Hidupnya berkelompok dalam jumlah individu yang relatif sedikit.
Pemeliharaan : Belum ada informasi.

Reproduksi : Belum ada informasi.
Pakan larva : Belum ada informasi.

8. Pseudomugil gertrudae

Pseudomugil gertrudae
Pseudomugil gertrudae

Nama ilmiah : Pseudomugil gertrudae Weber, 1911

Nama populer : Spotted blue eye
Nama lokal : –

Ciri umum :

Pseudomugil gertrudae memiliki tubuh yang agak pipih dan memanjang dengan warna biru keperakan yang semitransparan, ada juga yang berwarna kuning keemasan. Ikan ini memiliki dua sirip punggung yang saling berdekatan, yang pertama jauh lebih kecil dari yang kedua. Ujung sirip perut bisa berwarna kuning terang, jingga, atau merah-jingga, Sirip-sirip punggung, dubur, dan ekor bisa berwarna putih jernih, abu-abu keperakan, atau kuning disertai bintik-bintik berwarna gelap.

Status : Asli dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Pertama kali dipelihara pada awal tahun 1990-an di Pulau Aru. Diekspor ke Jerman sekitar tahun 1982. Sangat populer di kalangan penggemar ikan hias Australia.
Ukuran maksimum : 3 cm Kode area 1

Distribusi/habitat :

Distribusi di Kepulauan Aru (Pulau Terangan), Papua, dan Australia. Habitat berupa sungai-sungai kecil, rawa-rawa, laguna, sungai pada hutan hujan, yang berasosiasi dengan tumbuhan air, sisa-sisa kayu, dan daun-dau- nan. Substrat biasanya berupa lumpur dengan tumbuhan air yang tumbuh hingga permu- kaan. Kisaran suhu dan pH air sangat luas, yaitu 12–34°C dan pH 3,7–9,4.

Keterangan : Spesies ini terdistribusi di beberapa tempat sehingga ditemui variasi yang tinggi pada warna, ukuran tubuh, ukuran dan bentuk sirip di antara populasi yang berbeda.

Pemeliharaan :

Kisaran suhu dan pH air yang disarankan untuk pemeliharaan, yaitu 23–28oC dan 6,0–7,0.Pakan alami berupa udang-udangan kecil, serangga dan invertebrata air lain, berudu, dan alga. Dalam akuarium, ikan jenis ini dapat diberi pakan hidup atau beku, seperti Daphnia, kopepod, jentik nyamuk, artemia, dan cacing sutra. Ikan ini bersifat damai.

Reproduksi : Di alam, pemijahan biasanya terjadi pada awal musim hujan yang biasanya disertai dengan peningkatan ketersediaan pakan berupa plankton dan pakan lainnya. Telur biasanya disebar di antara tumbuhan air dan rumput. Satu betina mengeluarkan 10–12 telur dan biasanya memijah pada usia 1 tahun. Rasio terbaik dalam pemeliharaan 1 jantan dengan 2–3 ekor betina, dalam jumlah total 10–15 individu. Kisaran pH air 5,5–7,5.

Keterangan : Telur memiliki filamen yang dapat menempel pada tumbuhan air. Temperatur ideal untuk pemijahan berkisar antara 24–28°C. Masa inkubasi telur antara 4–9 hari.
Pakan larva : Artemia, Infusoria, kopepod, fitoplankton, dan cacing kecil.

9. Pseudomugil inconspicuu

Pseudomugil inconspicuus
Pseudomugil inconspicuus

Nama ilmiah : Pseudomugil inconspicuus Robert, 1978

Nama populer : Inconspicuous blue eye
Nama lokal : –

Ciri umum :

Tubuh kecil memanjang, memiliki dua sirip punggung yang berdekatan satu sama lain, yang pertama jauh lebih kecil daripada yang kedua. Warna tubuh bening kebiru-biruan dengan sirip yang bening kekuningan. Sebuah garis tipis mendatar berupa pigmen hitam memanjang dari sirip dada hingga pangkal sirip ekor. Garis ini diperjelas dengan adanya sisik-sisik berwarna biru terang di atas dan di bawahnya.
Ukuran maksimum : 3,5 cm

Status : Asli dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Pertama kali dikoleksi oleh Tyson Robert, seorang ilmuwan ikan (iktiologis) Amerika pada tahun 1975. Warna tubuh kurang cemerlang sehingga kurang populer.

Distribusi/habitat : Tersebar luas di Papua (Bintuni, Timika, Sungai Kikori, hingga Semenanjung Vogelkop), Papua New Guinea, dan Australia. Ikan ini dapat hidup di perairan tawar, payau, hingga asin, dengan habitat berupa sungai, payau berlumpur yang terlindung mangrove, dan kisaran suhu 22–39°C.

Keterangan : Tidak banyak terkoleksi dari kawasan mangrove.
Pemeliharaan : Masih sulit dipelihara di akuarium.
Reproduksi : Pemijahan biasanya terjadi pada awal musim hujan.

Keterangan : –
Pakan larva : Belum ada informasi.

10. Pseudomugil ivantsoffi

Pseudomugil ivantsoffi
Pseudomugil ivantsoffi

Nama ilmiah : Pseudomugil ivantsoffi Allen & Renyaan, 1999

Nama populer : Ivantsoff blue eye
Nama lokal : –

Ciri umum :

Kepala dan seluruh badan berpenampilan semitransparan dengan sering menampakkan warna kebiru-biruan atau kemerah-merahan. Iris mata berwarna biru kuat. Operkulum, abdomen, dan sirip renang berwarna keperak- perakan. Sirip dorsal bagian tepi dan pangkal sirip ekor berwarna merah terang. Masuk dalam kategori ikan berukuran kecil.

Ukuran maksimum : 3 cm

Status : Endemis dengan kategori IUCN Red List Status Not Evaluated. Pertama kali diidentifikasi sebagai Pseudomugil reticulatus berdasarkan kemiripan dengan individu betina yang diperoleh dari Timika, akan tetapi akhirnya kedua populasi tersebut sangat berbeda. Nama tersebut diambil sebagai penghargaan kepada Walter Ivantsoff atas kontribusi dan penge- tahuannya tentang taksonomi atherinoid. (Atheriniformes, nama ordo ikan ini).

Distribusi/habitat :

Jenis ini ditemukan di anak Sungai Ajka, Sungai Iwaka, dan Sungai Kopi di Wilayah Timika- Tembagapura, Papua Barat. Perairan jernih, dangkal yang berdasar pasir, kerikil maupun bebatuan, dan yang jarang terdapat tumbuhan air. Kadang-kadang juga di air jernih yang berwarna.

Keterangan : Warna gelap yang jernih pada air sungai karena kandungan substansi organik. Oleh karena itu, sungai ini dinamakan Kali Kopi (warna gelap seperti kopi). Ditemukan bersama jenis P. pellucidus, P. novaeguineae, Melanotaenia goldiei, M. splendida rubrostriata, dan M. ogilbyi.

Pemeliharaan : Kondisi alami pada kisaran temperatur 24–28°C dengan pH air antara 6,7–7,8.
Reproduksi : Belum ada informasi.
Pakan larva : Belum ada informasi.

*) Artikel ini diambil dari buku “101 Ikan Hias Air Tawar Nusantara
Penulis :  Djamhuriyah Syaikh Said & Hidayat

Baca Juga Yang Ini...

Tamasaba VS Sabao, Serupa tapi Tak Sama

Daftar Isi1 Tamasaba1.1 Ciri-ciri Ikan Mas Tamasaba1.2 Diet2 Sabao2.1 Perbedaan Sabao dan Tabasaba2.2 Sejarah ikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *